I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara maritim
yang kaya akan pulau dan potensi serta hasil lautnya. Indonesia memiliki
potensi fisik dari lautnya yaitu dengan jumlah pulau sekitar 17.508 pulau, luas
wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2, perairan nusantara 2,8 juta km2, luas
territorial 0,3 juta km2, perairan nasional 3,1 juta km2, luas ZEE 3juta km2, dan
panjang garis pantai lebih dari 81.000 km2. Dengan potensi fisik dari laut
Indonesia seperti yang tersebut di atas dapat kita pahami bahwa laut Indonesia
begitu luas dan kaya akan potensi lautnya. Laut Indonesia juga kaya akan hasil
laut. Indonesia termasuk dalam CTI (Coral Triangle Initiative) atau segitiga
batu karang dunia yang merupakan pusat keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan
laut di planet bumi. Sehingga laut Indonesia memiliki keragaman flora dan fauna
yang mengagumkan, 25% spesies ikan yang sudah dikenal manusia ada di perairan
Indonesia. Potensi lestari perikanan nasional mencapai 6,26 juta ton per tahun,
tapi yang dimanfaatkan baru 3,8 juta ton per tahun.
Oceanografi merupakan ilmu yang mempelajari laut (Ocean).
Laut merupakan permukaan bumi yang paling luas dari daratan, dimana luasnya
kurang lebih 70,8 % dari permukaan bumi yang memiliki 510 km adalah lautan. Laut juga merupakan tempat yang memiliki fenomena dan
karakteristik yang sangat kompleks.
Pada Oceanografi kita akan mempelajari tentang arus laut mengapa kita bisa
terjadi arus laut. Perubahan pola arus pada suatu perairan penting diketahui
karena sangat erat hubungannya dengan keselamatan pelayaran kapal-kapal
terutama untuk kapal-kapal yang digerakan oleh angin. Pengangetahuan tentang
arus bukan hanya pelayaran saja, tetapi juga untuk dibidang-bidang lainnya
seperti proses pendangkalan seperti erosi didasar laut. Arus laut terutama dipantai akan dapat
mendangkalkan suatu perairan dengan membawa partikel-partikel ketempat tersebut
dan kedalaman sebaliknya dapat terjadi. Keadaan ini penting diketahui didalam membangun suatu pelabuhan agar
pelabuhan itu dapat dipakai dalam waktu yang lama.
Suhu, arus, pasang surut,
gerlombang, termasuk bidang oceanografi-fisika (Physical Oceanografy)
yaitu bidang oceonografi yang mempelajarti sifat-sifat fisis dari laut, apa
yang menyebabkannya, bagaimana proses terjadinya, dan apa yang dipengaruhinya.
Selain oceonografi fisika, ada pula
bidang yang mempelajari sifat-sifat kimia dari air laut. Unsur-unsur kimia apa
saja yang terkandung didalamnya, dari mana asalnya dan apa pengaruhnya terhadap
lingkungan sekitarnya dan mengapa air laut itu asin, sedangkan air laut berasal
dari air sungai yang sama sekali tidak asin. Oceanografi-hayati (Biological
Oceanografy) adalah bagian dari oceanografi yang mempelajari sifat-sifat
hayati dari makhluk-makhluk yang hidup dilaut yang lebih dikenal dengan fauna
dan flora laut.
Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk
organisme laut dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida geofisika; tektonik lempengdan geologi dasar
laut; dan aliranberbagai zat kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada
batas-batasnya. Topik beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang
digabungkan oleh ahli oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai
samudera dan memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi, dan fisika.
Seiring dengan perkembangan kebudayaan, manusia mulai bisa membuat perahu
yang sangat sederhana seperti sampan. Perahu yang tertua di Eropa dibuat
sekitar 8300 tahun yang lalu dengan panjang 3 meter berada di Netherland. Pada
abad ke- 20 dan memasuki abad ke- 21 berbagai negara telah berlomba dalam
melakukan melakukan modernisasi tekhnologi penangkapannya. Beberapa negara
Eropa seperti Polandia, Belanda, Inggris, Swedia, Perancis, dan sebagainya
merupakan contoh negara yang telah maju dalam bidang penangkapan ikan. Di Asia,
Jepang merupakan negara yang sangat maju teknologi penangkapan ikannya.
B. Tujuan Praktik
Adapun tujuan praktik lapang Oceanografi
Perikanan ini adalah sebagai berikut:
1)
Untuk
mengetahui kondisi perairan dan daratan di daerah praktik.
2)
Untuk
mengetahui kuat aurs, arah dan kecepatan aurs.
3)
Untuk
mengetahui tinggi dan panjang gelombang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Oseanografi (berasal dari
bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti
gambaran atau deskripsi juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah
cabang dari ilmu bumiyang mempelajari segala aspek dari samuderadan lautan. Secara sederhana oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran
atau deskripsi tentang laut.
Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi
dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiahmengenai lautdan
segala fenomenanya. Lautsendiri
adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang
disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosferdan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologiseluruh makhluk hidup penghuni planetBumidikelompokkan ke dalam biosfer.
Oseanografi adalah bagian
dari ilmu kebumian atau earth sciences yang mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat)
bidang ilmuutama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosferdi bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan
dengan flora dan fauna atau biota di laut, (
Anonim, 2015 ).
Indonesia adalah suatu negara kepulauan.
Diakuinya konsep wawasan nusantara dan negara kepulauan oleh dunia
internasional membuat Indonesia menjadi suatu negara kepulauan terbesar di
dunia. Dengan wilayah negara yang sangat luas dan sebagian besar berupa laut,
dan memiliki daratan berpulau-pulau, maka bagi Indonesia mempelajari
oseanografi menjadi sangat penting. Banyak sumberdaya alam Indonesia yang
berada di laut, baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya non-hayati. Sumberdaya
laut yang sangat banyak itu hanya akan dapat dimanfaatkan dengan berkesinambungan
bila kita mempelajarinya.
Selain sebagai sumberdaya, laut juga
menjadi sumber bencana, terutama bagi penguni daerah pesisir dan pulau-pulau
kecil. Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang sangat luas dan
pulau-pulau yang sangat banyak, tentu akan besar pula potensi bencana dari
laut. Oleh karena itu, dalam rangka upaya melakukan mitigasi bencana alam dari
laut, maka mempelajari oseanografi juga merupakan suatu keharusan bagi bangsa
Indonesia, (Wallace, 1985 ).
Salinitas adalah
jumlah solid mataerial dalam gram yang terdapat dalam satu kilogram air laut,
dimana semua karbonat telah diganti oleh chlorine dan semua bahan organik telah
diosidasi (Hasyimi,A. 1986).
Suhu adalah
merupakan salah satu faktor yang perlu diketahui. Hal ini disebabkan oleh
peranan suhu dalam pelarutan unsur-unsur maupun senyawa kimia, makin tinggi
suhu perairan , maka akan sangat semakin tinggi pula derajat kelarutan perairan
atau reaksi kimia antara unsur atau senyawa satu dengan lainnya. Pada kegiatan usaha perikanan peranan suhu dapat ikut
menentukan keberhasilan penangkapan ikan. Hal ini disebabkan oleh sifat ikan
yang menyukaai hidup pada kisaran suhu tertinggi. (Harpasis, 1982).
III.
METODE PRAKTIK
A.
Waktu
dan Tempat
Praktik lapang
ini dilaksanakan pada tanggal 11-13 Mei 2015. Bertempat di desa Hilir Muara kecamatan Pulau Laut Utara kabupaten Kotabaru
provinsi Kalimantan Selatan.
B.
Metode
Praktik
Metode
yang digunakan pada praktik lapang ini adalah metode deskriptif, observasi dan
wawancara dimana mahasiswa bertanya secara langsung kepada masyarakat yang
bersangkutan dengan maksud dapat mengumpulkan data yang diperlukan secara
lengkap dan mendetail kemudian menganalisa dan mengambil kesimpulan. Sedangkan
untuk bahan pembandingnya yaitu digunakan bahan bacaan yang berkaitan dengan Oceanografi Perikanan.
IV.
KEADAAN UMUM DAERAH PRAKTIK
Desa Hilir Muara merupakan Kelurahan di Kecamatan Pulau Laut
Utara Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan. Luas daerah Desa Hilir
Muara ±0,50 km². Batas - batas wilayah Desa Hilir Muara dengan desa-desa
sekitarnya adalah sebagai berikut:
-
Sebelah Utara : Selat Laut
- Sebelah Selatan : Kel. Kotabaru Hilir
- Sebelah Barat : Desa Sigam / Batuah
- Sebelah Timur : Selat Laut
Desa hilir muara merupakan
daerah yang mempunyai ciri khas sebagai desa nelayan yang mana sebagian besar
penduduk desa berpropesi sebagai nelayan.
Tabel
1.Jumlah Penduduk dan jenis kelamin di
Desa Hilir Muara Kecamatan Pulau Laut Utara
No.
|
RT
|
Jumlah Penduduk
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
||
1
|
I
|
160
|
156
|
2
|
II
|
266
|
242
|
3
|
III
|
351
|
256
|
4
|
IV
|
140
|
107
|
5
|
V
|
230
|
205
|
6
|
VI
|
125
|
119
|
7
|
VII
|
176
|
167
|
8
|
VIII
|
245
|
302
|
9
|
IX
|
338
|
385
|
10
|
X
|
189
|
181
|
11
|
XI
|
154
|
143
|
12
|
XII
|
127
|
225
|
Total
|
2501
|
2488
|
|
4989
|
|||
Sumber
: Profil Desa Hilir Muara Kecamatan Pulau Laut Utara 2014
Tabel 2.Mata Pencaharian Masyarakat Desa
Hilir Muara
No.
|
Mata Pencaharian
|
Jumlah
|
1.
|
Peternak
|
6
|
2.
|
Pedagang
|
334
|
3.
|
Tukang Kayu
|
25
|
4.
|
Penjahit
|
5
|
5.
|
PNS
|
113
|
6.
|
Pesiunan
|
43
|
7.
|
Nelayan
|
945
|
9.
|
Polisi/TNI
|
15
|
10.
|
Industri Kecil
|
10
|
11.
|
Toko/Warung
|
54
|
TOTAL
|
1550
|
Sumber :
Statistik Desa Hilir Muara, 2014
Sarana dan prasarana yang ada di Desa Hilir Muara yang digunakan oleh masyarakat sebagai
penunjang kelancaran perhubungan ke desa lainnya dengan kecamatan, kabupaten
serta ibukota provinsi adalah dengan sarana transportasi darat dan air.
Keadaan sarana perhubungan di Desa Hilir Muara adalah jalan darat berupa
jalan beraspal yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat dan roda dua.Sarana
transportasi darat yang utama adalah sepeda motor.Jalan yang tersedia berupa
jalan beraspal dari kecamatan sampai dengan Desa Hilir Muara.Jalan ini
merupakan sarana penghubung desa.Selain sarana transportasi darat masyarakat
juga menggunakan sarana transportasi laut dengan menggunakan perahu atau kapal.
Masyarakat Desa Hilir Muara sudah banyak
memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan ada juga sebagian yang
mempunyai mobil sehingga mereka tidak terlalu sulit untuk menuju kota.
Permasalahan yang paling dominan dalam hal sarana dan prasarana perhubungan di
Desa Hilir Muara adalah kurangnya lampu
penerangan di sepanjang jalan desa sehingga memungkinkan rawan kecelakaan.
V. HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil
yang didapat dari praktik lapang di Desa Hilir Muara kecamatan Pulau Laut Utara kabupaten Kotabaru
provinsi Kalimantan Selatan.
ini adalah sebagai berikut:
Tabel. 1 Identifikasi Limbah
No.
|
Limbah dalam bentuk
|
Ada atau Tidak Ada
|
1.
|
Buangan pabrik
|
Tidak Ada
|
2.
|
Sampah plastik dan rumah
tangga
|
Tidak Ada
|
3.
|
Kotoran manusia
|
Tidak Ada
|
4.
|
Tumpahan dan bocoran minyak
|
Tidak Ada
|
Tabel. 2 Hasil Pengukuran
No.
|
Parameter yang diukur
|
Hasil
|
1.
|
Lintang
|
4o5’46.48”S
|
2.
|
Bujur
|
114o37’45”.07 T
|
3.
|
Akurasi
|
19 Meter
|
4.
|
Ketinggian
|
50 Meter
|
5.
|
Akuresi Ketinggian
|
50 Meter
|
6.
|
Salinitas
|
2,8 ppt
|
7.
|
pH
|
7,76
|
8.
|
Kecerahan
|
93 Cm
|
9.
|
Suhu
|
30,80
|
10.
|
Warna perairan
|
Jernih
|
11.
|
Bau
|
Tidak berbau
|
12.
|
DO
|
3,8mg/l
|
B.
Pembahasan
Pada dasarnya, air tidak memiliki
warna. Air hanya menyerap cahaya yang kemudian merefleksikannya. Ada dua proses
optik utama pada air laut, dan zat terlarut atau tersuspensi dalam air laut,
saat berinteraksi dengan cahaya yang masuk dari Matahari. Dua proses ini adalah
penyerapan ( absorption ) dan hamburan ( scattering ).
Di atmosfer, alasan utama bahwa
langit berwarna biru adalah disebabkan oleh hamburan cahaya. Di laut, cara
utama air berinteraksi adalah dengan penyerapan cahaya, air menyerap cahaya
merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau,
menyebabkan warnanya bisa berubah ubah tergantung kedalaman dan tempatnya.
“Warna biru merupakan warna yang
paling tidak diserap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru”.
Singkatnya, semakin dalam kedalaman
laut, semakin ia berwarna kebiruan. Berikut adalah diagram yang menunjukkan
kedalaman cahaya yang akan menembus di air laut beserta warna yang
mengandungnya. Karena cahaya merah diserap kuat, menjadikannya hilang, dan
cahaya biru terus menembus masuk kedalam. Saat matahari mulai terbenam dan terbit,
air laut akan kelihatan merah di permukaannya dikarenakan penyerapan cahaya
tersebut. Warna yang berbeda pada laut, sungai dan danau juga disebabkan oleh
tanaman yang hidup di dasarnya seperti alga yang terdapat pada laut merah, dan
endapan yang terbawa didalam air. Seperti warna coklat yang merupakan endapan
yang terbawa dari sungai, sehingga membuat warnanya nampak keruh
Warna air
laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang
dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang
dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuhan laut akan kurang dibandingkan
dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis
tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15 – 40
meter. Laut yang jernih merupakan lingkungan yang baik untuk tumbuhnya terumbu
karang dari cangkang binatang koral.
Air laut juga menampakan warna yang
berbeda-beda tergantung pada zat-zat organik maupun anorganik yang ada. Ada
beberapa warna-warna air laut karena beberapa sebab:
- Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.
2.
Warna kuning, karena di dasarnya
terdapat lumpur kuning, misalnya sungai kuning di Cina.
3.
Warna hijau, karena adanya lumpur
yang diendapkan dekat pantai yang memantulkan warna hijau dan juga karena
adanya planton-planton dalam jumlah besar.
4.
Warna putih, karena permukaannya
selalu tertutup es seperti di laut kutub utara dan selatan.
5.
Warna ungu, karena adanya organisme
kecil yang mengeluarkan sinar-sinar fosfor seperti di laut ambon.
6.
Warna hitam, karena di dasarnya
terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam.
7.
Warna merah, karena banyaknya
binatang-binatang kecil berwarna merah yang terapung-apung.
VI. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang di dapat
dalam praktik lapang kali ini adalah sebagai berikut :
1. Air
yang terdapat didaerah Kotabaru sangatlah jernih dan limbah rumah tangga tidak
ada.
2. Tingkat
keasaman air yang berada di daerah praktik lumayan tinggi dibandingkan dengan
daerah lain khususnya Kal-Sel.
3. Air
laut yang tidak berbau.
B.
Saran
Praktikan
berharap kepada praktikan yang lain yang kususnya yang mengambil mata kuliah
Oseanografi Perikanan agar bisa memperhatikan cara penggunaan alat dan tata
cara yang diterangkan oleh dosen pengampu.
DAFTAR PUSTAKA
Ingmanson,
D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanography: An Introduction, 3rd Edition,
Wadsworth Publishing Company, Belmont, California, 530 p.
Harpasis Slamat Sanusi. 1983. Oceonografi
Perikanan I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hasymi, A. 1986. Pengantar Ilmu Perikanan.
UNLAM. Banjarbaru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar